PERJALANAN ARANG “IMPROVED” SEBAGAI BAHAN BAKAR YANG BERSIH, PANAS TINGGI DAN TAHAN LAMA

(pengalaman Yayasan Dian Tama, Pontianak) Tanggal : 30/07/2004

Kalimantan. Bila mendengar kata Kalimantan, maka yang terbayang adalah sebuah pulau dengan hutan hujan tropisnya yang lebat penuh dengan pohon besar-besar, dengan demikian terbayang pula banyaknya HPH dan saw-mill (penggergajian kayu) di sana. Banyak saw-mill terbayang tentu banyak limbahnya. Terbayang lagi, mau dikemanakan limbah tersebut? Terbayang beberapa ide, salah satunya adalah pemanfaatan limbah. Untuk bahan bakar, tentunya diperlukan teknologi yang tepat agar limbah tersebut dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar, yaitu menjadi arang.

Kira-kira begitu bayangan Mas Rudi dari Yayasan Dian Tama waktu itu (18 tahun yang lampau), melihat limbah kayu sisa saw-mill yang terbuang percuma di Sungai Kapuas Kalimantan Barat. Pengolahan limbah yang bisa menjadi sumber nafkah dan penciptaan lapangan kerja memerlukan transfer teknologi dari mereka yang sudah menguasainya. Setelah mendapatkan ilmunya dan dipraktekkan, ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Teknologi yang tepat hendaknya mendatangkan kepuasan dari pengguna teknologi tersebut dan pemakai produk yang dihasilkan. Arang dari limbah kayu tersebut ternyata tidak memuaskan pemakainya. Karena cepat menjadi abu, panasnya kurang tinggi, bersaing dengan bahan bakar kayu bakau dan arang bakau. Ternyata yang diterima pemakai adalah arang dari tempurung kelapa (ini juga limbah). Itupun setelah dikombinasikan dengan teknologi briket yang pada waktu itu masih jarang dipergunakan. Hasil briket arang tempurung kelapa memuaskan pemakai karena bersih, mempunyai daya bakar yang lebih panas dan tahan lama. Dalam tangga energi (Energy Ladder), bahan bakar arang menduduki peringkat yang lebih baik dari kayu (urutan tangga energi dari yang terbawah sampai yang paling tinggi: kotoran ternak, sisa produk pertanian, kayu, arang, minyak, gas, listrik).

Pontianak, salah satu kabupaten di Kalimantan Barat, merupakan daerah penghasil kopra. Di wilayah pedesaannya, banyak terdapat pusat-pusat penghasil kopra yang disebut “langkau” Di langkau-langkau inilah tempurung-tempurung kelapa merupakan sampah yang menggunung, tidak dipergunakan dan menjadi masalah karena memakan tempat yang cukup luas.

Dimulailah kegiatan memproduksi dan mempopulerkan penggunaan arang tempurung kelapa sebagai bahan bakar yang lebih baik dengan sejumlah harapan. Selain memanfaatkan limbah tempurung kelapa yang berbukit-bukit banyaknya di seantero Kalimantan Barat, ini menyajikan alternatif bagi masyarakat untuk tidak lagi menggunakan bahan bakar dari kayu bakau yang dapat merusak lingkungan. Lebih mengesankan lagi, kerajinan arang juga berpotensi menambah pendapatan masyarakat.

Berkenaan dengan cara penyebarannya, strategi mengumpulkan bahan baku tempurung untuk diarangkan di suatu tempat lebih memakan tenaga dan biaya ketimbang menyebarkan teknologi pembuatan arang tersebut di tingkat masyarakat. Pilihan kedua ini cukup menjanjikan karena teknologi yang dipergunakan adalah teknologi pembuatan arang tempurung dengan menggunakan drum. Teknologi ini cukup sederhana dan peralatannya pun mudah didapat, sehingga dapat dioperasikan dan dipelihara oleh masyarakat sendiri. Selain masyarakat bisa mendapat keuntungan lebih, jangkauan wilayah kerja bisa lebih luas. Walau demikian, kerja keras tentu diperlukan untuk menularkan teknologi sederhana ini dari parit ke parit mengingat geografi perkelapaan di Kalbar terhampar sepanjang pesisir berdataran rendah serta pulau-pulau di lepas pantai. Masyarakat sendiri, selain memerlukan pembinaan teknologi sampai pengontrolan kualitas, juga memerlukan pembinaan manajemen bahkan sampai pengembangan usaha pada kasus-kasus tertentu.

Begitu roda digulirkan, diperlukan waktu setengah tahun untuk menghasilkan setengah ton arang yang pertama di propinsi ini. Arang-arang ini ditampung oleh PT. Siantan Suryatama untuk dijadikan briket. Setelah 18 tahun berselang, 2000 – 3000 ton arang berkualitas dihasilkan pertahun di seluruh propinsi dimana separuhnya memasok kebutuhan bahan bakar untuk memasak dan sisanya memasok kebutuhan industri. Pasang surut produktivitas arang ini selain terpengaruh oleh irama dunia usaha yang penuh dinamika di dalam negeri, juga terpengaruh pasang surutnya permintaan luar negeri.

Jepang, meski kondang sebagai negara yang menghargai arang dan dalam budayanya mempunyai tata nilai yang menghargai keaslian produk, bukanlah merupakan negara pembeli arang briket tempurung. Jepang dan Korea lebih menyukai Arang Briket serbuk kayu (Sawdust Briquette, Ogatan—bhs. Jepang, Youltan—bhs. Korea). Sedangkan negara-negara Eropa lebih bisa menghargai produk yang unik sejauh produk itu mempunyai keunggulan fungsional. Di negara-negara empat musim ini, Arang Briket terutama dipergunakan untuk memanggang daging atau barbeque. Budaya mengadakan pesta kebun (“Out-door Party”) atau barbeque di hotel atau restoran memerlukan arang yang bersih dan nyaman (“convenience”) serta dapat diperhitungkan (“predictable”) karakteristiknya. Beraneka ragam tungku panggang yang disebut “Grill” bisa dibeli di Supermarket dengan berbagai ukuran dan harga. Umumnya tungku-tungku tersebut punya permukaan lebar dan dangkal sehingga bisa memanggang lebih cepat atau banyak. Memanggang ikan atau daging tebal memerlukan keahlian khusus dan arang yang khusus juga. Panas arang untuk kebutuhan ini bisa diibaratkan seperti Microwave, memasak dengan cahaya radiasi yang beroperasi dengan panjang gelombang 2 – 5 angstrom tanpa memperlihatkan lidah api.

Di Indonesia, pengguna Arang Briket bervariasi dari penggunaan di keluarga, usaha kecil seperti tukang sate, pengusaha rumah makan Padang, pembuat kue sampai hotel-hotel berbintang. Tungku yang dipakai pun beraneka ragam. Terkadang tungku kayu bakar digunakan masak dengan memakai arang tanpa menyadari perbedaannya. Improved Charcoal atau arang berkualitas tinggi umumnya sangat baik dipergunakan untuk memanggang. Selain untuk memanggang, arang juga dapat digunakan untuk memasak makanan yang lain baik rebus ataupun goreng dan sangat cocok digunakan di rumah-rumah makan, karena panasnya konstan plus bersih.

Jika ada pepatah mengatakan ‘Menang jadi Arang, Kalah jadi Abu’, memang pada kenyataannya ‘Arang yang Menang itu tidak banyak berdebu dan berabu—alias bersih’. Makanya, “ayo belajar bikin Arang Bersih aja laagiiiiii”. Siapa biiilang nggak bisa …?

Rudy Utama
Bila tertarik, ada pertanyaan silakan kontak:
Erni atau Bapak Donatus Rantan
Yayasan Dian Tama
Jl. Abdulrahman Saleh, Gg. Cakra No. 12 Pontianak 78121 Telp/fax: 0561 – 735268
Email: diantama@pontianak.wasantara.net.id

Sumber: ASAP Edisi 10, April 2004

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: