OLAH TEMPURUNG JADI BRIKET PENGGANTI BBM BERNILAI EKONOMI TINGGI

Oleh per_madi
Jumat, 31 Agustus 2007

Pariaman, Padek—Tempurung kelapa yang selama ini cenderung dianggap sebagai limbah ternyata dapat diolah menjadi briket yang bernilai jual tinggi. Di samping itu briket juga dapat dijadikan alternatif pengganti BBM yang mulai langka saat ini.

Murahnya nilai jual kelapa saat ini, disebabkan karena kebiasaan petani menjual langsung kelapa, dalam bentuk butiran. Padahal jika komoditi ini melewati proses pengolahan terlebih dahulu, nilai jualnya akan menjadi lebih tinggi. Berdasarkan kenyataan ini, Sentra Inovasi Pengolahan Kelapa terpadu Fakultas Pertanian (Faperta) Universitas Eka Sakti (Unes) Padang bekerjasama dengan Kementerian Negara Riset dan Teknologi serta Pemko Pariaman mengadakan pelatihan pengolahan tempurung kelapa menjadi briket.

Pembantu Rektor I Unes Padang, Agussalim menjelaskan pohon kelapa sebagai pohon sumber kehidupan, karena setiap bagian dari pohon kelapa jika diolah akan memiliki nilai jual tinggi. ”Untuk itu perlu diadakan pelatihan dan sosialisasi ini, sehingga dapat mengubah pola pikir petani yang ingin menjual cepat komoditinya, walaupun dengan harga murah,” ujarnya kepada pers, saat memberikan sambutan dalam acara pembukaan, di KUD Cubadak Aie, Kota Pariaman, Kamis (30/8).

Menurutnya berdasarkan data BPS Kota Pariaman, luas lahan kelapa mencapai 2.863 H dengan jumlah pohon 125 batang per hektar, diperkirakan satu pohon memiliki buah 100 butir. Namun jumlah yang fantastis ini tidak membawa perubahan terhadap kehidupan petani, disebabkan satu buah kelapa hanya dihargai Rp500. Selanjutnya jika kelapa diolah terlebih dahulu, seperti arang tempurung yang dijadikan briket, petani dapat menjual dengan harga Rp4.000 per kilogram. Selain itu harganya akan menjadi Rp40 ribu per kg jika arang tempurung diproses lagi menjadi bubuk.

Dan manfaat langsung dapat dirasakan petani, dengan menjadikan briket sebagai pengganti BBM dalam kehidupan sehari-hari. ”Itu baru dari tempurungnya saja, belum lagi sabut, daging dan santannya, jika semua diolah tentu petani kelapa Pariaman akan jadi petani terkaya di Indonesia,” ujarnya optimis. Sementara itu Ketua Sentra Inotek Pengolahan Kelapa Terpadu, Faperta Unes Padang, I Ketut Budaraga menjelaskan secara teknis proses pengolahan arang tempurung briket cukup mudah dan murah.Sehingga petani dapat mengolahnya langsung dengan bermodalkan alat yang sederhana saja. ”Diharapkan pelatihan ini, dapat memperluas dan menambah pengetahuan petani tentang pemanfaatan kelapa,” harapnya.

Selanjutnya, Ketut juga mengharapkan komitmen petani untuk tidak menjual hasil panennya secara langsung, tanpa pengolahan. Karena jika itu dilakukan, pelatihan yang diselenggarakan ini tidak kan membawa perubahan terhadap pendapatan petani. Sementara itu, Asisten II Kota Pariaman, Bachtiar Sultan, berharap dengan pelatihan ini, dapat meningkatkan penghasilan petani. Muaranya menurunkan angka kemiskinan warga. ”Karena sampai saat ini, dari 14.455 warga Kota Pariaman, 2.998 di antaranya warga miskin. Artinya 20 persen warga masih dililit kemiskinan,” ungkapnya.

Pelatihan ini yang dilaksanakan selama dua hari ini, diikuti 40 orang pengusaha serta petani kelapa tiap kecamatan yang ada di Kota Pariaman. Dalam pelatihan ini para peserta akan mengikuti dan mengaplikasikan langsung teknis pembuatan briket dari tempurung, di samping mendapatkan sejumlah teori pengolahan kelapa, dan prospek pemasarannya. Sedangkan pemateri yang hadir dari kalangan dosen dan Dinas Perindustrian, Perdagangan Kota Pariaman

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: