BRIKET TRADISIONAL MULAI DIPRODUKSI, UJI COBA DI TIGA KECAMATAN

Kompas, Rabu, 07 Maret 2007

Tungkal, Kompas – Masyarakat Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Provinsi Jambi, secara swadaya mulai memproduksi briket berbahan dasar tradisional dari tempurung kelapa dan cangkang sawit. Briket diharapkan akan menjadi produk unggulan baru, mengingat daerah ini kaya akan hasil-hasil perkebunan tersebut.

Sebanyak 1,5 ton briket berbahan tempurung kelapa yang baru diproduksi, pekan lalu, habis dibeli oleh masyarakat setempat hanya dalam satu hari. Abbasdan, pembuat briket tempurung kelapa pertama di Desa Parit Dua, Tungkal Ilir, Kuala Tungkal, mengemukakan, mesin-mesin produksi yang dirakitnya sendiri, dapat menghasilkan briket sekitar satu ton per hari.

Sejauh ini juga sudah ada permintaan besar-besaran dari koperasi daerah dan pengusaha untuk diekspor. “Banyak permintaan dari luar yang harus kami penuhi. Ini menandakan usaha briket tempurung kelapa, ke depan bisa menjadi usaha yang menjanjikan,” tuturnya, Selasa (6/3).

Dinas Koperasi, Perindustrian, dan Perdagangan (DKPP) Kabupaten Tanjung Jabung Barat, telah melakukan uji coba pembuatan briket berbahan dasar tempurung dan cangkang sawit. Tahun ini uji coba akan dikembangkan pada sejumlah kelompok petani di tiga kecamatan, Merlung, Betara, dan Pengabuan. Daerah ini dipilih karena menghasilkan panen kelapa dan sawit paling besar.

Selama ini, menurut Badruddin, Kepala Seksi Bina Usaha Subdin Perindustrian DKPP Kabupaten Tanjung Jabung Barat, masyarakat setempat telah memanfaatkan tempurung kelapa sebagai bahan bakar untuk memasak. Tempurung tersebut merupakan limbah produksi kopra yang banyak dihasilkan oleh petani.

Briket memiliki nilai lebih dibanding sekadar memanfaatkan tempurung kelapa untuk memasak. Satu kilogram briket dapat tahan hingga enam jam, atau enam kali lipat lebih awet dibandingkan dengan tempurung kelapa biasa. Api yang ditimbulkannya pun lebih biru, aman dari polusi udara.

“Saat ini memang baru satu perajin yang membuka sendiri usaha produksi briket dari tempurung kelapa. Namun, kami juga memperkenalkan bahan bakar alternatif ini pada kelompok-kelompok petani. Jika mereka tertarik mengembangkannya, kami akan memfasilitasi,” tutur Badruddin.

Selain tempurung kelapa, cangkang sawit akan mulai dimanfaatkan untuk kebutuhan bahan bakar rumah tangga. Selama ini hanya perusahaan-perusahaan besar yang memanfaatkannya sebagai bahan bakar. Pihaknya berharap masyarakat dapat juga mengambil nilai lebih dari cangkang sawit. (ITA)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: