BAHAN BAKAR: HITAMNYA BRIKET YANG MEMBAWA REZEKI

Kompas (07/03/2007)

Abbasdan sehari-harinya akrab dengan briket berbahan tempurung kelapa yang membuat kulit kotor dan kehitaman. Sampai-sampai ia harus mengenakan baju hitam setiap hari, supaya gores-goresan briket itu tidak tampak di bajunya.

Ia sama sekali tak memedulikan briket mirip arang yang selalu mengotorinya sejak lima bulan terakhir. Abbas tekun bergelut di gudang produksi, mulai dari merakit mesin penggilingan, penghancur debu, pencetak, sampai turun tangan mengolah tempurung kelapa menjadi briket. Kegiatan ini memang pasti bikin terimbas dan kulitnya menjadi kelihatan lebih hitam.

Namun, kerja keras ini telah menghasilkan briket tempurung kelapa yang kini dinyatakan sebagai bahan bakar alternatif pengganti minyak tanah. Abbas begitu yakin usaha briket ini akan terus berkembang, dan dengan demikian memulihkan usahanya yang sempat hancur. Lima bulan lalu usaha pembuatan ikan asin dan terasi terpaksa ditutup karena mengalami stagnasi.

Apalagi, menurut Abbas, pembuatan briket dari tempurung kelapa tidaklah rumit. Dia memanfaatkan limbah berupa serbuk hasil pembakaran tempurung kelapa. Selama ini serbuk terbuang-buang percuma begitu saja. Oleh Abbas, serbuk itu kemudian dibelinya dengan harga Rp 300 per kilogram. Dengan mempekerjakan tiga remaja pengangguran setempat, Abbas mengolahnya dengan mencampurkan serbuk, tepung tapioka, dan air.

Bahan-bahan ini digiling bersama, lalu dicetak berbentuk seperti kue putu berdiameter dan panjang enam sentimeter. Cetakan itu lalu dijemur seharian hingga benar-benar kering. Jadilah, briket dari tempurung kelapa.

ENAM JAM
Wujudnya sangat mirip arang. Namun, satu kilogram briket tempurung kelapa yang dijual dengan harga Rp 1.500 per kg ini, dapat digunakan selama enam jam untuk memasak. Tentu, briket ini jauh lebih efisien, ketimbang tempurung, arang, atau kayu bakar yang apinya langsung habis paling lama satu jam per kg.

Di sisi lain, briket ini jauh lebih ramah lingkungan. Hanya lima menit sejak disulut api, briket mengeluarkan asap. Setelah itu api briket berwarna biru tanpa asap, dengan temperatur yang stabil selama enam jam. “Kayu bakar bisa bikin api besar, tapi jika sudah mau habis pasti dengan cepat apinya akan redup. Tapi, kalau briket ini apinya stabil,” tuturnya.

Briket tempurung kelapa memang telah lebih dahulu dikembangkan kelompok perajin di Yogyakarta. Namun tak ada salahnya apabila usaha ini juga dikembangkan pada sentra-sentra penghasil kelapa seperti di Kabupaten Tanjung Jabung Barat yang hampir di setiap kebun warga pasti memiliki kelapa.

Betapa pengembangan usaha briket akan menjadi sangat potensial di wilayah ini, tak perlu diragukan. Bahan yang melimpah, tinggal kemampuan dan kemauan untuk membangun usaha ini sebagai usaha rakyat yang mengangkat kesejahteraan. Dengan pembinaan dari instansi teknis, bukan tidak mungkin briket ini menjadi andalan Jambi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: