Tegak di antara Sabut Kelapa.

Wim Damsteeght seperti tak punya pilihan lain ketika hendak berkebun di Pakchong, Nakhonratchasima, yang menjadi tuan rumah pesta olahraga bangsa Asia Tenggara tahun lalu. Lahan yang ia beli bekas penanaman singkong, sehingga unsur hara terkuras. Di sana juga banyak nematoda. Itulah sebabnya ia memilih sabut kelapa sebagai media tanam.

 

Sabut kelapa yang lazim sebagai pengisi jok mobil dan keset itu ia pilih lantaran jumlahnya berlimpah dan harganya pun murah. wim memilih sabut berbentuk dadu. ukurannya 2 cm x 2 cm. potongan kulit kelapa itu sohor sebagai cocochip. wim yang lahir di belanda 40 tahun lampau itu menambahkan butiran sabut kelapa alias cocopeat. kedua bahan itu ia campur dengan rasio 1:3 sebagai media tanam. ia tak merendam media tanam sebelum pemakaian.

Pekebun itu menanam bibit tomat di polibag bermedia sabut kelapa. uniknya, wim tak memanfaatkan benih yang disemaikan untuk memperoleh bibit. pehobi pencak silat itu membuat bibit rootstock. pada prinsipnya rootstock adalah menyambung 2 varietas tomat yang mempunyai keistimewaan seperti resisten nematoda (batang bawah) dan berproduksi tinggi (batang atas). sayang, ia merahasiakan kedua varietas itu. ‘teknologi ini biasa diterapkan pekebun-pekebun di eropa,’ katanya.

Ia menanam bibit rootstock setinggi 7 cm dan terdiri atas 3-5 daun ke polibag. sebuah baglog hanya ditanami satu bibit. populasi di sebuah greenhouse seluas 2.400 m2 mencapai 1.000 tanaman. polibag-polibag itu tertata rapi dengan jarak 100 cm x 50 cm. media tanam sabut tentu saja tak memberikan nutrisi yang diperlukan anggota famili solanaceae itu. oleh karena itu wim memberikan pupuk secara berkala. ia meramu sendiri nutrisi itu dan menampungnya di sebuah tangki berkapasitas 1.000 liter.

wim memupuk 5 kali sehari dengan interval 3 jam. pria yang baru 7 tahun menetap di thailand itu mengadopsi sistem irigasi tetes untuk menyalurkan nutrisi ke setiap polibag. nozel berukuran 5 mm akan mengalirkan nutrisi selama 5 menit. dengan teknologi itu, wim tinggal membuka keran jika ingin memupuk.

 

Asam Humik
pada umur 150 hari, kerabat terung itu panen perdana. menurut wim produksi rata-rata 2,5 kg per tanaman. bandingkan dengan pt saung mirwan, produsen sayuran hidroponik di
bogor, jawa barat. perusahaan yang memanfaatkan arang sekam sebagai media tanam itu memanen 3,5 kg per tanaman. ternyata tomat yang dibudidayakan secara hidroponik bermedia sabut tetap memberikan hasil tinggi.

padahal, menurut ir yos sutiyoso, pakar hidroponik di jakarta, sabut kelapa mempunyai kelemahan. ‘cocopeat mengandung alkaloid yang mengganggu pertumbuhan,’ kata alumnus institut pertanian bogor itu. untuk mengatasinya pekebun dapat mencucinya hingga busa kecokelatan yang mengandung asam humik itu hilang. asam humik membahayakan pertumbuhan lantaran menyebabkan ph tinggi yang membuat beberapa unsur penting bagi tanaman tak dapat diserap.

wim menuai tomat dengan gunting, lalu menyortirnya. standar mutunya adalah bobot buah rata-rata 40 g, warna merah, penampilan mulus, dan bentuk bulat. buah lolos sortir itu dikemas di atas wadah plastik berukuran 15 cm x 15 cm. sebuah kemasan berisi 4-5 buah dengan bobot rata-rata 200 g. wim memasarkan sayuran eksklusif itu ke pasar-pasar swalayan di bangkok, perjalanan 2 jam dari kebunnya. saat ini harga sayuran buah itu mencapai 20 bath setara rp 6.000 per kg.

harga relatif stabil, sebab wim membuat kontrak harga sebelum memasok tomatnya. selain itu wim juga menjual tomat produksinya di gerai pribadi green and clean vegetable limited. lokasinya terletak di pinggir jalan raya, tepat di depan jalan masuk menuju kebun.

 

Paprika Hidroponik
di seberang greenhouse tomat, wim juga mengelola 3 greenhouse lain dengan luasan sama. greenhouse itu berbentuk setengah lingkaran. namun, atapnya mirip piggy back alias punggung babi sehingga sirkulasi udara lancar. itulah sebabnya meski tengah hari bolong berada di dalamnya, tak terasa panas. atap rumah tanam itu terdiri atas 3 lapis solarfilm sebagai penstabil suhu. cara kerjanya, siang hari solarfilm memantulkan cahaya yang masuk sehingga suhu dalam rumah kaca tetap dingin, malam harinya solarfilm mencegah udara panas keluar dari rumah kaca.

sementara dinding greenhouse berupa jaring antihama 7% berwarna putih. itu karena terdapat cooling path di dalam greenhouse sehingga perlu screening net yang lebih rapat. usai panen dinding itu dapat digulung; ketika mulai menanam, dinding ditutup kembali. lantai greenhouse disemen untuk mencegah serangan nematoda. menurut ir purwantono ds, ahli rancang-bangun greenhouse di jakarta, greenhouse itu cocok bila dibangun pada ketinggian di atas 400 m dpl, ‘udara sejuk penting untuk berkebun tomat,’ kata purwantono. di 3 greenhouse lain, wim membudidayakan paprika, pare, dan terung.

sayuran sekerabat itu juga ditanam secara hidroponik bermedia sabut kelapa persis tomat. bedanya, wim memanfaatkan bibit asal benih yang disemaikan, bukan bibit rootstock. produktivitas sayuran itu relatif tinggi. paprika misalnya, mencapai 10 kg per tanaman setara dengan produksi bellpepper di indonesia. paprika tiga warna itu diharga 65 bath setara rp 18.200 per kg.

pekebun yang konsultan greenhouse itu juga memasarkan sayuran-sayuran itu ke bangkok. ternyata, untuk berhidroponik tak perlu repot. wim yang 12 tahun terakhir bertanam tomat itu hanya memanfaatkan sabut kelapa sebagai media tanam. toh produktivitasnya tetap tinggi.

 

Sumber : Oleh trubus Jumat, 01 Februari 2008 (andretha helmina)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: