Permintaan Briket Batok Belum Terpenuhi.

Indonesia belum mampu memenuhi permintaan briket batok kelapa dari Eropa yang jumlahnya mencapai 50.000 ton per tahun. Selam ini permintaan yang mampu dipenuhi baru sekitar 10.000 ton per tahun.

Kuota permintaan dari Eropa tersebut belum termasuk ekspor ke Korea Selatan dan negara-negara Timur Tengah. Permintaan yang tinggi tersebut dikarenakan banyaknya digunakan briket batok kelapa untuk pemanas ruangan dan pemanggangan daging (barbeque).

Menurut Sekretaris Jenderal Forum Komunikasi Perkelapaan Indonesia (FOKPI) Donatus G Sabon di Jakarta, Selasa (1/6), untuk pasar Eropa, saat ini Indonesia hanya mampu memenuhi permintaan sekitar 10.000 ton per tahun. Itu belum termasuk permintaan dari Korea Selatan, Jepang dan negara-negara Timur Tengah. Harga briket batok kelapa tersebut berkisar antara Rp 5.000 – Rp 8.000 per kilogram (kg) sesuai kualitas yang dihasilkan.

“Peluang pasar masih sangat besar tetapi di beberapa industri justru masih kesulitan mendapatkan bahan baku batok kelapa untuk diolah. Di sisi lain, perlu dorongan Pemda di sentra produksi kelapa untuk membangkitkan usaha pengolahan tanaman kelapa sebagai pendorong ekonomi rakyat,” katanya.

Dikatakan, dalam jangka panjang, industri pengolahan tanaman kelapa seperti produksi briket batok kelapa perlu dikembangkan di luar Pulau Jawa, untuk mengantisipasi minimnya pasokan bahan baku.

Hal itu disebabkan kebutuhan kelapa untuk rumah tangga juga sangat tinggi, sehingga industri terpaksa bersaing untuk memperoleh pasokan bahan baku.

Sementara itu, salah satu eksportir briket batok kelapa, Erwan J, mengatakan, potensi pasar Eropa tersebut belum termasuk beberapa negara di Eropa Timur yang juga sangat membutuhkan briket batok kelapa untuk pemanas ruangan dan memanggang daging.

Diungkapkan, kebutuhan akan briket tersebut juga harus dibedakan, karena bisa saja berasal dari batok kelapa saja atau juga dicampur dengan bahan kayu lain. Umumnya, minat akan briket batok kelapa tersebut terus meningkat.

 

Korsel dan Jepang

Selain pasar Eropa, Korea Selatan juga merupakan peluang pasar karena membutuhkan briket batok kelapa sekitar 150 ribu hingga 200 ribu ton per tahun. Sedangkan Jepang sekitar 60 ribu hingga 70 ribu ton per tahun. Selain dari Indonesia, kebutuhan briket tersebut juga dipenuhi dari Sri Lanka, India dan Filipina. Harga briket batok kelapa saat ini di Eropa (FOB) berkisar antara US$ 250 – US$ 300 per ton.

“Ekspor dari Filipina sangat kecil, karena banyak produk yang diolah dari briket batok kelapa untuk meningkatkan nilai tambah. Sebaliknya, ekspor dari Indonesia masih didominasi oleh bahan baku atau komoditas primer, sehingga perlu diolah lebih lanjut,” ujar Erwan.

Sampai saat ini, sentra produksi briket batok kelapa umumnya ada di wilayah Pulau Sumatera, Jawa dan Kalimantan. Sekalipun sangat berpotensi, kualitas briket tersebut harus terus ditingkatkan sehingga harganya pun semakin baik. (H-12)

 

Sumber : Dari berbagai Sumber

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: