Potensi Bisnis Kelapa Terabaikan

Baru segelintir produsen Indonesia mencetak keuntungan dari proses nilai tambah kelapa. Dari buah murah yang berlimpah di Indonesia ini, pasar Eropa “melahap” minyak masak berkualitas terbaik, pengisi jok Mercedes, briket termahal untuk barbeque, hingga sabun dan parfum. Sekretaris Jenderal Forum Kelapa Indonesia (Fokpi) Donatus Gede Sabon di Jakarta, Senin (5/11), menuturkan, Filipina saat ini merajai pasar ekspor dengan 125 jenis produk olahan kelapa. Sebaliknya, baru 25 jenis produk olahan diproduksi di Indonesia.

Tahun 2005, Filipina mengantungi keuntungan ekspor kelapa senilai 757,3 juta dollar AS dari perkebunan seluas 3,1 juta ha. Pada saat yang sama, dengan perkebunan seluas 3,8 juta ha, nilai ekspor kelapa Indonesia hanya 228,7 juta dollar AS.

Kekalahan nilai ekspor itu makin telak jika diperhitungkan perolehan dari beragam produk olahan kelapa. Untuk serat kelapa, Indonesia kalah dari Sri Lanka dan India.

Di tengah iklim industri kelapa Indonesia yang belum bergairah, Bambang Warih Koesoema adalah salah seorang pebisnis yang berusaha merebut peluang itu.

Bersama rekanan, Bambang membangun PT Siantan Suryatama pada tahun 1985. Perusahaan ini mengolah dan mengekspor briket batok kelapa ke Eropa, AS, dan Timur Tengah.

Kini, bersama Energo Mas Primanesia dan Agrocarbon, perusahaan pengembangan lainnya, Siantan mengekspor 500 kontainer atau sekitar 8.500 ton briket batok kelapa per tahun. Salah satunya bermerek Cococha. Pada sudut kemasan tertera World Champion BBQ Jamaica 2003.

Sejak 2006, perusahaan ini mulai mengekspor bahan dasar sabun dari kelapa untuk industri rumah tangga di Perancis, sebanyak 120 ton per bulan. Diproduksi pula suplemen makanan virgin coconut oil bermerek Bionutrient, khusus untuk pasar Finlandia, Jerman, dan Belanda.

Beberapa anggota Fokpi merupakan industri pengolahan kelapa skala kecil dan menengah dengan beragam variasi produk. Produsen anggota Fokpi di Pangandaran, Jawa Barat, misalnya, mengekspor sabut kelapa untuk isian jok mobil ke Eropa, yakni sebanyak 120 ton per bulan.

Permintaan pasar ekspor yang besar sulit dipenuhi industri berkapasitas kecil dan menengah. Produsen ini menyerah dengan permintaan ekspor sabut ke China sebesar 2.000 ton per bulan.

Siantan dan produsen olahan kelapa umumnya tidak mempunyai kebun. Pabrik-pabrik ini membeli kelapa dari kebun rakyat. Sekitar 97 persen kebun kelapa di Indonesia merupakan perkebunan rakyat. “Kalau industri pengolahan kelapa berkembang, yang diuntungkan sebenarnya rakyat karena mereka pemilik kebun. Berbeda dengan kelapa sawit yang lebih banyak dikuasai perkebunan swasta besar,” ujar Bambang. Industri besar pengolahan kelapa di negeri ini tak lebih dari lima perusahaan, antara lain PT Pulau Sambu di Riau dan Salim Grup yang memproduksi Bimoli.

Menurut Bambang, investasi terbaru di sektor ini baru ditanamkan pemodal Jerman di Kendari, Sulawesi Tenggara, tahun 2006. Pabrik senilai 25 juta dollar ini mengolah kelapa menjadi makanan bayi dengan sasaran pasar Eropa. Salah satu produk kelapa terpenting di pasar AS dan Eropa adalah minyak masak. Ketatnya regulasi kesehatan di AS dan Eropa mendorong tingginya konsumsi jenis minyak ini. Tanpa proses nilai tambah, harga kelapa di tingkat petani di Pulau Jawa kini hanya Rp 400-Rp 500 per butir, atau Rp 100-Rp 300 per butir di luar Jawa. Sampai di pasar kota, kelapa dijual sekitar Rp 3.000 per butir.

Padahal, kelapa produk zero waste semua bagiannya dapat diolah hingga bernilai tinggi.

Sayang, potensi melimpah ini belum banyak disadari pebisnis. Pemerintah pun tak berupaya mengembangkannya. (DAY)

 

Sumber : Kompas, Selasa, 06 November 2007

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: